Kamis, 15 Maret 2012

My Confession

Ditulis oleh Dheril di 05:02
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini


Going back to school means I have to deal with a bunch of mountainous assignments and other boring stuffs made by dreary lecturing. I felt so since the first date of my coming back to school. After I enjoyed two months for daydreaming and creative-writing for my script novel, I have to realize that now I can’t waste my time in front of my laptop to write the unfinished chapters of my writing anymore. I have to deal with a lot of assignment till it got finished. And I thought I’m getting bored with everything now. I want my spare time comes back then I can read what I want and do what I want too.


I remembered during two months holiday I spent much time to read novels and write my script, I didn’t take more care about preparing the semester coming up next and I didn’t want to lose my time to arrange my schedule. What I wanted was only having nice time to read and write my imagination, no need to worry about assignments or other shabby lecturing, there’s no time to think something terrible like having bored in a class for just a second. I really do not want to spend my time for boring lecturer actually, but thinking about some classes in this semester makes me take a deep breath to lite up my pressure.

Since I am a student now, I have to make it fine and go with through. I can’t deny that I’m absolutely bored for everything now but either I can’t runaway just for the skip. I just wonder how miserable this days going on. How ridiculous my wasted time just for uninteresting subjects and disappointing response for unrecognized work. Yeah, some unwished thing happened and made up me crazy. How could my own work judged by the reason it was not my work? I’ve tried to do the best as far as I can, but the response seems to be out of my mind.

Actually, I prefer my own world than living in this kind of jailing. My definitely reason is I can feel that I’m alive when I can facing my imagination dances in my mind and comes down through my fingers on the typewriting board or in a pen and papers. There are soooo many things inside my mind but the boring and deadly-terrible stuffs are enough to take my mind. I, who want or don’t, have to finish every stuff and try to accept that perhaps this time, I have to concentrate to my school instead my strong eager to writing my script novel. Aha, what a beautiful terrible and unthinkable life!


Rabu, 07 Maret 2012

Fate - Book Review

Ditulis oleh Dheril di 01:58
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Judul: Fate – saat nasib mempertemukan kita [New Edition]
Penulis: Orizuka
Penerbit: Authorized Books
Halaman: 297 hlm
Tahun terbit: 2012
ISBN: 9786029689426

sinopsis:

Jang Min Ho dan Jang Min Hwan.

Dua putra Keluarga Jang yang terpisah selama bertahun-tahun, sekarang harus bertemu kembali untuk mendengar wasiat ayah mereka yang telah meninggal dunia.

Min Ho, terlahir sebagai anak dari istri yang sah, hidup serba berkecukupan di Indonesia. Sementara itu, Min Hwan terlahir sebagai anak dari seorang pelacur, hidup susah di Korea.

Demi mendapat kekayaan Keluarga Jang di Indonesia, dua putra keluarga Jang harus memenuhi segala permintaan ayah mereka di dalam surat wasiat, termasuk tinggal bersama di rumah Keluarga Jang. Rasa dendam, sakit hati dan masa lalu yang pedih membuat kedua kakak-beradik ini lebih mirip seperti orang asing.

Kehadiran Dena, anak gadis kepala pelayan yang juga adalah teman masa kecil mereka, berhasil membuat mereka kembali bersatu. Namun, di saat mereka akhirnya merasa sudah mampu melewati masa itu, nasib berkata lain.

Nasib.
Ketetapan Tuhan.
Sesuatu yang tidak dapat diubah dengan tangan manusia.
Benarkah demikian?

Bagaimana Min Ho dan Min Hwan menghadapi nasib mereka? Sanggupkah mereka mengubahnya?


My Review

Well, saya dipermainkan oleh mbak Orizuka lagi. Hehehe...dengan sebuntel kisah yang [lagi-lagi] membuat saya bisa tidak tidur selama semalam penuh. Setelah Infinitely Yours, Fate membuka mata saya lebar-lebar tentang banyak hal. Dan ini point yang saya dapatkan dari membaca semalam.

Fate kisah yang mempertemukan persaudaraan dengan cara yang luar biasa sulitnya...
Kisah Jang Min Ho dan Jang Min Hwan yang begitu pelik. Sangat pelik, hingga membuat penulisnya harus memberikan satu per satu clue pada pembaca untuk membawa mereka kepada puncak klimaks emosi saat membaca kisah dua saudara senasib ini. Dari segi ide cerita, Fate sangatlah mencolok...tidak hanya menghadirkan konflik keluarga yang rumit namun juga konflik perasaan yang lebih pelik dari kisahnya sendiri. Seolah-olah, setiap kali satu tokoh merasakan rasa sedih dan senang, pembaca bisa merasakannya. Mbak Orizuka berhasil menyatukan kehidupan Jang Min Ho dan Jang Min Hwan dengan pembaca. Untuk yang satu ini saya tidak bisa membagi info lebih lanjut, kalian harus membacanya!

Setting Korea-Jakarta tidak lagi penting. Jadi yang terpenting adalag teruslah membaca hingga akhir cerita. Itu. Yang paling penting.

Karakterisasi yang sangat detail namun tidak deskriptif. Inilah yang saya suka dari sebuah novel. Saya menyukai gaya penulisan yang tidak menjelaskan, namun menunjukkan bagaimana karakter dan sifat-sifat tokoh di dalamnya dengan ungkapan kata-kata tokoh itu sendiri. Dengan perilaku mereka, hal-hal yang terjadi di sekitar mereka, tanpa harus menjelaskan bahwa tokoh ini blaa..blaa..blaa... Cara seperti novel Fate ini lebih berkesan dalam di hati dan membuat siapapun pasti membayangkan bagaimana bila tokoh dalam Fate benar-benar ada.

Jang Min Ho. Sosok laki-laki dan kakak yang kuat, tenang dan penyayang yang memiliki ketakutan akan kehilangan adik-adik yang dimilikinya. Min Ho, bisa dibilang menjadi sosok sempurna karena dia kaya, tampan dan pintar. Namun siapa sangka bila nasib berkata bahwa kehidupannya tidak seindah dunia dongeng...Min Ho tetap sosok kakak yang memiliki sihir ampuh untuk meluluhkan hati, Jang Min Hwan, adiknya.

Jang Min Hwan. kasar, tak punya hati, dan menyebalkan...seperti yang dikatakan Adena tentang Min Hwan. Sosok Min Hwan menjadi yang paling sentral di kisah Fate ini. secara semuanya bersumber dari dirinya. Laki-laki ini sungguh istimewa dengan segala kenyataan pahit hidupnya yang harus dia terima. Pesonanya sebagai penderita sindrom kelebihan rasa percaya diri ini tak ayal membuat Adena harus kalang kabut untuk mengakui bahwa dia juga menyukai pemuda ini. dari caranya memperlakukan Adena....oh sungguuuuh, Min Hwan adalah pemuda kasar yang melakukan perhatian melebihi yang dia duga. Min Hwan berhasil mengambil hati Adena dan tentu saya! Oh, man...for times I’m fallin in love with an imajinary guy...and he’s a fiction character...just wondering how if I can meet a guy like Min Hwan... He could make my heart warming before it getting messed badly...dia menyentuh tepat dimana seseorang tidak bisa menyadari perhatian besar yang dia tujukan sehingga membuat orang baru menyadari bahwa kepergian Min Hwan sangat menyiksa, itu berhasil Min Hwan lakukan pada Adena...ada saya akui terjadi pada saya... HAHAHAHAA...

Adena. Gadis ini tipe yang ngangenin dan enak buat dikerjain. Setidaknya itu bagi Min Hwan, tapi bagi Min Ho dia sosok adik yang dia sayangi. Oh, benarlah kata Nicole –kekasih Min Ho-bahwa Adena sungguh beruntung disayang dua Oppa... namun Adena juga menjadi kunci pada hubungan Min Ho dan Min Hwan...seandainya saja Adena tidak ada,,,bisa dibayangkan kisah Fate tidak akan sesemarak ini.

Anyway, tentang cover new edition ini, saya lebih suka yang lama... tapi agak menyesal juga mengapa saya telat membacanya. baru setelah new edtionnya sempat baca... Saya tidak bisa berbicara banyak lagi. Fate is a must read book for everyone who wants to find a good moral lesson and a such as heartwarming love story. I gave 5 stars of 5.

Sabtu, 03 Maret 2012

Till We Meet Again Book Review

Ditulis oleh Dheril di 03:38
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
My rating: 4 of 5 stars

Juara Ketiga 100% Roman Indonesia

Judul Novel: Till We Meet Again – menjemput cinta di Austria
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: GagasMedia
Tahun terbit: 2011
Halaman: 294 hlm

Sinopsis:

Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi.

Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu,”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.


My review:

Semua penulis yang diorbitkan oleh GagasMedia sepertinya harus banyak berterimakasih kepada desainer cover yang membungkus kisah indah mereka dengan sentuhan apik dan menarik. Saya tidak pernah bosan untuk mengatakan bahwa setiap kali datang ke toko buku, cover yang menarik perhatian saya pastilah novel dari GagasMedia. Till We Mee Again memiliki sentuhan musik biola dalam ceritanya, ilustrasi animatis di covernya mewakili kisah di dalamnya dengan baik. Warna dan detail bercak-bercak seperti di kertas lama membuat penampilan luar novel ini seklasik kota Wina yang menyimpan banyak hal yang classic.

Well, based on the story...ini bukan cerita yang sangat spesial atau memiliki kesan unik. Kenangan yang berkesan di masa kecil dan akhirnya bergaung hingga dewasa. Sudah dari awal mereka (tokoh) diciptakan untuk bersama oleh penulisnya. Tapi, sisi menarik dari novel ini adalah detail-detail kecil yang terselip manis dan tidak berkesan seperti narasi datar. Riset yang dilakukan kemungkinan besar memanglah cukup sulit dan mendetail, dan tentunya berhasil memulas kisah sederhana di dalamnya menjadi semakin menarik untuk dibaca.

Penuturan penulisnya pun memiliki gaya bahasa yang enak dibaca dan cukup menarik. Meski banyak notes tentang bahasa asing yang sulit dilafalkan bila sama sekali tidak mengenal bahasa Jerman. Setting Wina, Austria, sudah dipersiapkan dengan matang karena cerita di novel ini based on classical music, and as for sure Wina adalah kota musik klasik, sepertinya semua musik klasik berasal dari sana dan berkembang di sana. Makanya pemilihan setting tempat memang sangat cocok bila digabungkan dengan kisah Elena dan Chris.

Nah, cuplikan singkat saja dari saya tentang kisah di novel Till We Meet Again ini. Elena adalah anak indo Austria-Indonesia yang memiliki kenangan yang tidak bisa dia lupakan. Tentang mendiang Mom-nya dan sudut taman Stadtpark dan seorang anak laki-laki yang sudah memberinya kue khas Austria yang tidak bisa dia lupakan. Hingga mimpi untuk kembali dan mencari pangeran itu hadir dalam bentuk nyata saat Elena diizinkan kuliah di Wina.

Elena seorang violinist yang berbakat seperti ibunya menemukan kisah cintanya di sini, di kota klasik yang menyimpan banyak hal kecil yang berkesan, mulai dari bahagia hingga pilu. Elena menemukan sosok yang dia cari meskipun harus mengalami kesalahan dalam ‘meletakkan cintanya’.

Hingga Chris membeberkan yang sebenarnya, Elena menyadari betapa dia sangat bodoh karena tidak sadar bahwa pangeran kaiserschmarrn-nya sudah ada di depan matanya, selalu ada untuknya di saat tertawa dan tangisnya. Christoper von Schwind dan Elena Sebastian Admaja sudah dipertemukan kembali di bawah naungan kota Wina yang melankolis dan klasik. Menjemput cinta di Austria. More about this story, you should read by yourself, this is classical and fluid story from Yoana Dianika, it’s third winner of 100% Roman Asli Indonesia.

View all my reviews

Rabu, 29 Februari 2012

A Lovely Holiday

Ditulis oleh Dheril di 03:37
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Liburan semester ke-tiga ini yang sangat panjang dan mulai membosankan bila tidak dimanfaatkan dengan baik segera berakhir. Tanggal 1 Maret aku sudah masuk kuliah lagi, bertemu dengan orang-orang itu lagi, pergi ke tempat itu-itu lagi, mengulang semuanya seperti kuliah lagi. Yah, back to collage. Tapi ada yang membuatku merasa senang setelah menghabiskan dua bulan liburan. I didn’t go to work or doing something to make money but I teach my private student like usual.

Tapi dua bulan ini aku berhasil menyelesaikan satu draft novel bersetting Korea yang idenya muncul di akhir tahun. Bulan Januari dan Februari seperti menjadi puncak semua inspirasiku mengalir hingga aku tidak bisa berhenti memikirkan para tokoh yang hidup dalam imajinasiku. Setiap hari mereka menghantuiku hingga aku tak sempat meluangkan waktu untuk hunting foto. Padahal rencananya aku ingin pergi ke Surabaya untuk mencari referensi novel. tapi akhirnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop untuk menulis. Bahkan sebelum aku bisa memejamkan mata pun aku tidak bisa tenang bila mereka belum keluar dari imajinasiku, ide-ide menghujaniku seperti ratusan rintik air dari langit. Membuatku kewalahan menampungnya, tapi aku tetap berusaha untuk mempertahankan ide yang berseliweran itu.

Dua bulan aku menyelesaikannya, berbanding terbalik dengan naskah sebelumnya yang butuh kurang lebih enam bulan untuk selesai karena tentu saja terbentur kuliah dan kegiatan lain. Liburan ini aku konsen menulis dan membaca. Aku merasa sangat senang karena kapan lagi aku bisa menghabiskan seluruh satu hari penuh untuk memuaskan imajinasi menulisku dan membaca.

Aku tak banyak keluar rumah. Hanya ke toko buku sesekali, itupun hanya untuk melihat-lihat. Liburan ini mungkin agak ‘lame’, tapi aku sangat puas dan bersyukur karena bisa menyelesaikan satu draft judul.

Nah, selesai dengan draft itu aku malah mendapatkan berbagai macam ide cerita yang menarik. Hingga aku bingung yang mana yang harus aku tulis terlebih dahulu. Hanya untuk sekedar menuliskan ide ceritanya saja membuatku bingung karena begitu banyak inspirasi yang menghampiriku. Harus kudahulukan yang mana? Aku tidak tahu karena begitu banyak hingga aku tidak yakin jumlahnya. Namun aku bersyukur karena imajinasiku adalah sahabat terbaik yang kumiliki. Setiap kali aku memikirkan dunia yang ada di sana, aku bertemu dengan sosok karakter yang beragam dan membuatku semakin yakin dan bersemangat untuk menuliskan kisah mereka. Aku bangga telah hidup dengan imajinasiku. Entah meski banyak orang yang merendahkanku karena hanya bisa berkhayal dan menulis, aku tidak peduli. Banyak yang mengatakan bahwa penulis hanya bisa berkhayal yang muluk-muluk. Tidak, itu salah...itu bahkan bukan khayalan belaka, tapi itu inspirasi dari kisah yang hidup dalam imajinasi penulis. Orang yang sulit merasa dan sulit peka terhadap hal-hal sepele yang malah sangat penting-seperti orang yang tidak bisa berimajinasi- akan sangat sulit untuk memahami jalan pikiran sepertiku. Aku bahkan tidak merasa kehidupan yang terjadi dalam imajinasiku hanya ilusi, aku menganggapnya nyata dan ada karena mereka hidup di duniaku, imajinasiku.

Satu lagi, aku berharap dan berdo’a untuk naskah-naskahku yang belum terbit dan masih dalam proses seleksi. Masih satu sih, tapi yang lain akan menyusul. Ya Allah, mudahkanlah jalanku untuk bisa membuat ayah dan ibuku bangga dan tahu bahwa aku bisa menjadi penulis. Ya, ini serupa dengan mimpi yang akan jadi nyata. Mengubah mimpi menjadi nyata. Itu prosesnya. Wish me luck!

Senin, 27 Februari 2012

The Windflower Book Review

Ditulis oleh Dheril di 03:23
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
The Windflower - Pemenang RRA Award untuk kategori Best Classic Historical Romance (1994)

Judul: The Windflower – takluk di bawah pesonamu
Penulis: Sharon dan Tom Curtis
Penerbit: GagasMedia
Alih bahasa: Endang Sulistyowati
Halaman: 626 hlm
Tahun terbit: 2011
ISBN: 9789797805142
Genre: Dewasa/Adult

Sinopsis:
Merry Wilding mendambakan petualangan... namun yang dia dapat malah penculikan dan dikirim ke kapal yang paling ditakuti di lautan.

Merry tidak punya pilihan lain kecuali tunduk pada perintah pemilik kapal, sang bajak laut misterius berambut keemasan. Dan meskipun kata-kata setajam duri sering meluncur keluar dari sana. Bibir itu juga yang mengenalkan gadis itu pada ciuman memabukkan yang tak akan pernah dia lupakan. Laki-laki itu tampak begitu berbahaya, sekaligus membuatnya hampir tak bisa bernapas karena dikuasai gairah.

Devon Crandall hanya bermaksud untuk merayu tawanannya itu sedikit dan mengorek informasi darinya. Tapi dia tidak pernah menduga sepasang mata biru milik perempuan itu bisa membuat Devon semakin mengingininya.

Sang bajak laut dan tawanannya saling membujuk, saling menggoda...siapa akhirnya yang jadi pemenangnya?


My review:

The First is always about the cover. Dari semua edisi The Windflower baik dalam bahasa inggris atau yang sudah diterjemahkan, cover dari Mbak Anissa dari GagasMedia ini yang paling bagus dan sesuai dengan mata saya. Windflower itu sendiri adalah nama sejenis bunga yang menjadi sebutan untuk Merry dari Devon. Desainnya bagus seperti sebuah lukisan cat minyak. Always nice to see the cover.

Well, seharusnya saya pikir ulang untuk membaca novel bergenre dewasa. Ingat, DE-WA-SA. Tentunya saya sempat syok dan semakin terperangah dengan plot-plot yang menggambarkan genre dewasa tersebut. Tapi di sisi lain, cerita yang ditulis oleh pasangan suami-istri Sharon dan Tom Curtis ini sebenarnya menarik, tentunya bukan dilihat dari seberapa intens adegan romantis di sini.

Kisah yang menceritakan penculikan Merry dari kapal yang akan membawanya ke Inggris menjadi semakin menegangkan dan membuat ‘petualangan’ tidak terbayangkan. Merry, gadis yang polos tidak pernah tahu dunia luar kecuali ladang jagungnya, harus berhadapan dan mengalami serangkaian kejadian yang menyedihkan, memalukan dan menegangkan bersama segerombolan perompak di Black Joke. Belum lagi dia harus berurusan dengan pria misterius bernama Devon. Devon salah satu perompak di sana. Namun pesonanya sama sekali tidak memancarkan perompak bengis dan kejam, tapi bukan berarti Devon tidak memiliki sifat perompak itu. Merry harus menerima perlakukan tidak menyenangkan bahkan menyakitkan jika Devon mulai tidak bisa menguasai akal sehatnya. Tapi saat itulah, mereka berdua mulai menyadari bahwa sejak pertemuan pertama mereka di kedai minuman, dimana Merry dibawa oleh Carl, kakaknya untuk menggambar wajah-wajah perompak itu untuk kepentingan pemerintahan Amerika, mereka sudah jatuh cinta.

Perjalanan kapal Black Joke benar-benar memberikan banyak pelajaran pada Merry. Hingga cinta yang murni itu terbukti ketika malaria menyerangnya. Devon seperti orang gila karena setiap detik dia mengkhawatirkan kondisi Merry yang semakin buruk. Di sinilah Devon menampakkan betapa dia menyayangi Merry. Namun perlahan misteri di antara Merry dan Devon yang mereka sembunyikan mulai terkuak. Sang perompak dan tawanannya, mereka sudah mengetahui rahasia mereka.

Di luar bagaimana adegan yang menurut saya terlalu ‘romantis’, saya menyukai ceritanya, kecuali pada bagian yang membuat kepala saya pening. Yah, bisa dibaca sendiri novel yang menerima anugerah RRA tahun 1994 sebagai Best Classic Historical Romance ini, asalkan sudah sesuai dengan usia (Hehehehe). Baru di bab ke-24 dari 32 bab saya menyukai kisah ini. Tentang bagaimana takdir ternyata memang sudah berkata bahwa Merry dan Devon akan bersatu, tentang cinta yang bersatu dalam sebuah pernikahan. Tidak menyangka jika hubungan ‘aneh’ sang perompak dan tawanannya yang selama di kapal menjadi semakin aneh dan menegangkan itu berakhir dengan manis. Pada bagian bab ke 32, endingnya, saya sebut itu yang manis, bukan romantis ala novel-novel bergenre dewasa, yaa...

“Merry Wilding, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan di dunia ini,” ujar Devon dengan suara yang sangat lembut, “Mungkin termasuk satu atau dua hal yang tidak kau inginkan, Tapi pertama-tama, Cinta, aku akan memberikan namaku,”

Bukankah itu bisa disebut sebuah lamaran yang sangat manis? Siapa yang menyangka jika Devon adalah seorang the Duke of Cyr?

Ada beberapa bagian yang membuat narasi menjadi terlalu membosankan dan menjenuhkan. Narasi yang terlalu bertele-tele dengan kalimat berfrase panjang memang identik terjadi di novel terjemahan karena memang bahasa awalnya, bahasa Inggris, memiliki susunan kalimat yang tidak sesederhana bahasa indonesia. Saya tidak tahu apakah plot romantis di sini yang menjadikan novel ini meraih penghargaan, apakah karena penulisnya menggambarkan bagaimana adegan dua tokoh yang saling jatuh cinta itu yang membuat novel ini istimewa? Tapi menurut saya yang membuat novel ini berkesan baik dan bagus bagi saya adalah beberapa dialog yang saya kutip dari Merry dan Devon.

Quotes:

“Betapa indahnya hidup kita. Aku memberimu hidupku dan semua momen di dalamnya,” – Merry

“Dan, aku akan memberimu hidupku, dalam kedamaian, dan jika datang cobaan yang berat, aku juga akan memberikan jiwaku padamu,” – Devon.

“Cintaku, aku akan selalu membawanya bersamaku, dan menjaganya,” – Merry.

Untuk yang ingin membaca kisah perompak dan tawanannya ini, harus membaca sendiri bagaimana petualangan dan kisah yang terjadi di atas kapal Black Joke ini. Tapi tidak disarankan untuk pembaca remaja di bawah sembilan belas tahun yaaa... Ini genrenya belum sesuai untuk yang masih unyu-unyu dan imut-imut. Masih ada novel lain yang sesuai dan bagus kok. Inget, novel juga punya standarisasi usia yang membatasi siapa boleh membaca. Jadilah pembaca yang bijak dengan memilih bacaan yang sesuai dan bermanfaat, serta mendukung usia kamu. You should find the right and appropriate one to read if you want to have good mind after reading the book. Always nice to be wise, right? Ingat itu yaa. Saya juga akan menerapkan cara ini. Setelah ini lebih baik saya mengkonsumsi genre remaja dan anak-anak saja, bagi saya sendiri saya belum pantas membaca genre dewasa, *inget usia yang remaja bukan dewasa juga bukan...*

Dan saya nggak bisa membayangkan bagaimana jika novel ini difilmkan. Oh, Tuhan, tidak... *mungkin saya nonton yang udah disensor saja deeeh..., :P* Seandainya novel ini bukan genre dewasa, atau setidaknya masih di level remaja yang ringan-ringan, saya akan menjadikan The Windflower sebagai favorit saya. Tapi, sepertinya ada yang lain untuk jadi pilihan. Cukup dengan tiga bintang dari lima bintang saya.

Jumat, 24 Februari 2012

Once Upon a Love Book Review

Ditulis oleh Dheril di 05:10
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu. Pertahananku begitu rapuh akan pesonamu. Potongan-potongan kejadian indah berlompatan, menyesaki benakku dengan imaji dirimu; dari caramu membuatku tersipu, tatapan dalam langsung ke arahku, sampai kata-kata manis yang kuingat selalu.

Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu. Kau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang harusnya kusimpan di dalam kotak dan kubuang jauh-jauh….

Dan di suatu hari tak terduga itu, aku tersenyum dan menangis pilu karena dirimu

Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: GagasMedia
Tahun: 2011
Halaman: 192 hlm

my review:

Entah bagaimana Ferio sudah hadir dan tinggal di hati Lolita. Ya, Lolita mencintai Ferio dengan segenap hati dan segalanya. Mendamba padanya dan mengharap padanya. Lolita menginginkan Ferio sebagai cintanya.

Lolita. Nama itu mungkin pernah hadir dalam hari-hari Ferio. Namun tak sebanding dengan bagaimana Drupadi mengisi semua harinya, mendampinginya, bersahabat dengannya, lalu jatuh cinta padanya. Setidaknya Ferio merasa jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Drupadi mungkin memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat padanya, namun Ferio tidak pernah tahu jika untuk memilikinya saja seperti hal yang mustahil akan terjadi.

Drupadi begitu mengenal Ferio melebihi siapapun. Gadis itu terlalu memasuki kehidupan pemuda itu dalam-dalam dan dia sadar jika dia sudah tinggal di sana begitu lama, begitu dekat. Dia sadar jika ada perasaan yang mulai tumbuh menindih rasa persahabatan itu. Mengubahnya merasakan kenangan manis dengan Ferio, Banana Boy itu. Namun, persahabatan, cinta dan keyakinan membuatnya harus memilih di antara ketiga hal itu. Drupadi meninginkan Ferio, namun dia tidak bisa. Karenanya dia tidak memilih cinta.

Seperti rantai yang tak bersambut, Ferio harus menerima keputusan Drupadi untuk tidak pernah menjalin hubungan selain persahabatan. Dan malangnya Lolita harus merasakan nasib yang sama seperti Ferio. Cinta mereka tidak pernah bisa bersatu. Ketiganya. Drupadi... Ferio... Lolita... mereka seperti anak rantai yang lepas dari kaitannya.

Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan...sebuah kisah yang indah menyakitkan.


"You Better Move On." -Ferio to Lolita.
-Once Upon a Love by Aditia Yudis.


find also in http://www.goodreads.com/book/show/12983905-once-upon-a-love

Selasa, 21 Februari 2012

SeoulVivor a giveaway from @KoreanUpdates and Penerbit Haru

Ditulis oleh Dheril di 05:00
Reaksi: 
1 komentar Link ke posting ini

A lot of thanks and grateful to @KoreanUpdates @sayaquavi @t4tz18 for Seoul Vivor gift!
I just can’t believe that I was one of the 5 winners of #KadoTahunBaruKU


Ketika dapat info tentang kuis menulis itenary ke Seoul ini, awalnya aku kurang percaya diri untuk ikutan, tapi karena semangat menulis dan pergi ke Korea suatu hari nanti...aku ikut juga. Bahkan diawal sampai salah menulis alamat Twitter, tapi terimakasih banyak pada admin Joo yang ngasih ijin diperbaiki.
Announcement via Twitter:


Buku Seoul Vivor emang kereen banget dan bermanfaat untuk Kpoppers seperti saya ini yang ingin sekali ke Seoul! Daebaak @KoreanUpdates @sayaquavi @t4tz18!!!
I know how hard to elect the contestants. But, a big great thanks for you all!

###

My Book Review of SeoulVivor
Penulis: Lia Indra Andriana dan Tatz Sutrisno
Penerbit: Haru
Halaman: 210 full color
ISBN: 9786029832525

Fangiriling adalah hal yang sangat diimpikan oleh K-poppers. Bisa berkeliling Korea Selatan, Seoul adalah impian yang terwujud melalui buku ini. SeoulVivor sudah sharing banyak hal bagi pemula yang ingin fangirling sampai ke sana. Buku ini menyuguhkan itenari perjalanan ala pemula yang tetap nyaman asik dan menyenangkan dilengkapi dengan gambar dan ilusitrasi menarik full colours. SeoulVivor tentunya patut dimiliki dan dibaca oleh siapapun K-poppers itu! Daebaaak dua eonnie yang sudah melancong hingga Seoul, I do hope that someday I gotta be there!!! Big thanks to two of writers and Korean Updates!

Sunshine Becomes You a Book Review

Ditulis oleh Dheril di 04:45
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2012
Halaman: 432 hlm
ISBN: 9789792278132

Sinopsis:
Ini kisah yang terjadi di bawah langit New York... Tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan... Tentang impian yang bertahan di antara keraguan... Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.
Awalnya, Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu-malaikat kegelapan yang membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa, dan Alex bertanya-tanya bagaimana dia bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapan.
Awalnya, mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai-sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.


My Review:

Alex Hirano harus menerima jika pertemuan pertamanya dengan gadis bernama Mia Clark itu akan menjadi bencana bagi karir pianisnya. Jadwal sepanjang tahun harus dia batalkan karena tangannya harus dibebat setelah gadis itu terguling dan menubruknya. Membuatnya cacat, begitu Alex selalu mengungkit masalah. Sementara Mia adalah seorang gadis yang penuh perasaan bersalah, dan tulus ingin membantu. Guru tari di sekolah tari di New York itu menawarkan waktu-waktunya yang berharga untuk membantu Alex di rumahnya, ya sebagai pengurus rumah dan pembantu. Setidaknya begitulah kesepakatan yang mereka jalani. Mia menawarkan bantuan sukarela namun dia tidak tahu dengan siapa dia berurusan. Alex, si pangeran es ini cukup memperlakukannya dengan tidak baik namun ternyata benih lain mulai tumbuh di antara mereka.

Itu diawali saat Alex melihat tarian Mia di sekolah lamanya, Julliard. Mereka tidak tahu jika dulu mereka satu almamater. Saat itu Alex terpesona pada malaikat kegelapannya. Namun dia sadar, jika Ray Hirano, adiknya itu juga mengincar gadis bermata hitam itu.
Cinta tumbuh di antara Alex dan Mia, begitulah jadinya. Namun di tengah derita penyakit jantungnya Mia ingin menyembunyikan hal itu dari Alex karena dia tidak ingin mengkhawatirkanya, hingga Alex menemukan sendiri jika ternyata gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta pada kopi buatan Mia itu mengidap penyakit jantung. Saat Mia memutuskan untuk kembali ke panggung pertunjukan, Alex sangsi karena kondisi Mia yang tidak baik. Namun itu mimpi Mia seumur hidupnya dan dia memilih, dia sudah memilih.

Serangan itu terjadi setelah pertunjukan selesai. Serangan yang membuat Mia harus dirawat intensif di rumah sakit. Saat itulah menjadi hal yang paling memilukan, Mia ingin menghindar dari Alex karena tidak ingin menambah beban pria itu. Namun Alex tidak bisa hidup tanpa berada di sisi Mia. Dan maut yang harus memisahkannya. Lagu yang Alex buat tatkala dia ingat pada Mia, Sunshine Becomes You, adalah lagu yang mengingatkannya tentang cahaya matahari dan rumput hijau saat pikirannya tertuju pada Mia.


I’d like to apriciate Ilana Tan who paint a lot of colours here, in her fifth novel, Sunshine Becomes You. It’s been always surprising since her writing has proven that imagination and words combined into a bundle of amazing papers. Ilana Tan selalu membawa pembacanya ke alur cerita yang melankolis dan lembut. Tidak membuat pembacanya bosan di tengah karena pengantarnya sudah menarik pembacanya dan mungkin meski endingnya sudah tertebak, tetap saja akan ada senyum dan airmata yang mengakhiri lembaran novelnya ditutup. Kisah Alex Hirano dan Mia Clark bukanlah ide cerita yang spesial. Mereka bertemu, membenci, jatuh cinta dan salah satu harus meninggalkan salah satunya. Namun, sekali lagi dengan balutan setting dan diksi kata yang membuat pembaca tidak pernah merasa jenuh membuat semuanya terbaca dengan spesial. Namun saya lebih menyukai Autumn in Paris karya dari tetralogi 4 Musim karya Ilana Tan. Kisah Alex dan Mia di Sunshine Becomes You tidak sememilukan Autumn in Paris yang membuat saya menitikan airmata hingga halaman terakhir 4 of 5 stars to Sunshine Becomes You.

Jumat, 10 Februari 2012

Just The Way My Antifans Hate Me [Kuis: My Antifan Story Penerbit Haru]

Ditulis oleh Dheril di 12:20
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
So, I Married the Anti-fan


Judul : So, I Married the Anti-fan
Penulis : Kim Eun Jeong
Genre : Romance, comedy
Kategori : Fiksi, novel terjemahan
ISBN : 978-602-98325-4-9
Tebal : 550 hlmn
Harga : Rp. 60.000 (PO Rp. 54.000+ongkir)
Terbit : Maret 2012

Sinopsis

Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi… Aku adalah antifan-nya.

H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan

Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti. Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikitpun maka mereka tidak segan-segan untuk bertindak.

(untuk info lengkapnya silakan berkunjung ke Penerbit Haru atau ke Twitter @penerbitharu)

====================================================================
My Antifan Story: Jika Aku Idola dan bertemu Antifan-ku


Just The Way My Antifans Hate Me


“Hai,” suaraku kuusahakan terdengar tenang dengan senyum tertarik manis di wajah. Tapi pemuda di depanku malah menyipitkan mata padaku dan berkerut kening. Senyumanku tidak dibalas, senyum yang sudah kulukis dengan kanvas wajah terbaikku dan ketulusan yang masih tersisa dari panggung konser yang baru saja aku turuni. Tapi, pemuda berjaket hitam dengan tulisan ‘Hate You’ itu membuatku terpaku dan menelan ludah. “Dia antifanku,”

Well, berbicara tentang idola dan antifan adalah hal yang sangat menarik. Semua yang diidolakan pasti memiliki kubu berseberangan, kubu yang tidak menyukainya atau alih-alih menyukai, mereka membencinya dan menyebut kubu mereka Antifan. Sebagai idola, keberadaan antifan itu juga merupakan suatu titik penting, sama seperti fans. Membayangkan diri saya dielu-elukan oleh fans yang mencintai saya namun di sisi lain, sekelompok orang mencibir dan merendahkan pasti kecewa rasanya. Dan apa lagi jika bertemu langsung, bertatap muka dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Pastilah antifan saya itu akan memicing ke arah saya dengan dahi berkerut dan diikuti kata-kata yang tidak enak didengar. Tatapan benci bagi siapapun tidak menyenangkan, apa lagi bagi idola yang banyak dicintai tapi juga banyak dibenci. Yah, serba salah memang. Sebagai idola saya nggak bisa memaksa mereka untuk berhenti menjadi antifan, terlebih meminta mereka untuk menyukai saya. Seandainya saya menjadi idola, lalu di suatu kesempatan setelah menggelar konser atau apa, dan bertemu dengan seorang antifan... saya akan tersenyum lembut karena saya tidak membenci antifan, meskipun mereka secara nyata membenci saya. :D. Bersikap seperti apa adanya, dan mencoba mencari hal apa yang salah pada diri saya hingga dia menjadi antifan saya.

Katakanlah saya seorang penyanyi wanita tersohor di antero dunia, kemudian harus menikah dengan orang yang sudah dijodohkan orang tua dan bingo! Dia adalah antifan saya. Setengah bencana, setengah anugerah. Saya harus bersiap-siap menjalani hidup dengan orang yang tidak menyukai saya dan mencoba untuk membuatnya menyukai saya, in case dalam keadaan seperti itu. Tapi hal yang lebih penting adalah, antifan bukan hanya sekedar orang-orang yang anti pada kita (idola), mereka adalah pengingat bagi idola untuk terus memperbaiki diri, berinstrospeksi diri dari apa-apa yang mereka kritikkan pada kita. Antifan itu justru menjadikan dunia idola menjadi lengkap. Dunia idola harus tetap seimbang dengan adanya fans dan antifans.

Tapi di sisi lain saya yakin, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan bisa saja seorang antifan akan berubah menjadi big fan yang justru mendukung idolanya suatu saat. Bukan berarti hal itu tidak mungkin, karena setiap hal memiliki kemungkinan. Begitu juga fans, mereka pun bisa berubah, yang tidak terlalu parah mungkin mereka tidak lagi mengidolakan saya, atau mengidolakan idola lain. Itu bukan suatu masalah yang harus dibesar-besarkan bagi saya. Tapi jika fan malah berubah menjadi antifan, itu artinya saya sudah tidak berhasil menjadi idola yang fans saya harapkan dan itulah waktu saya sebagai idola, untuk memperbaiki diri lagi.

“Jadi, apa yang kamu sukai dariku?”

Manekin yang mungkin terbuat dari es itu tidak bergeming atau tampak ingin menjawab. Tangannya berkacak pinggang sedangkan matanya memicing dengan seribu alasan dia membenci seorang superstar sepertiku ini, aku mencari-cari dari sekilan ribu alasan itu, berharap ada satu hal yang dia sukai dariku.

“Yang aku suka, yang aku suka aku membencimu,”

Aku menelan ludah, baiklah...aku ini bintang terkenal, wanita pula...jadi aku tidak akan bersikap sembarangan, “Kau tahu kenapa aku tidak menghalangimu dan teman-temanmu yang membenciku itu merusak konserku tadi? Kau tahu alasan aku diam saja saat kalian melemparkan telur ke panggung tadi?”

Aku akui antifanku ini mirip dengan idolaku sendiri, seorang aktor film action yang sudah merajai perfilman internasional, tapi dia membenciku.

“Karena aku mencintai antifans-ku, aku menyayangi mereka,”

Dia terbelalak hingga manik matanya nyaris jatuh ke lantai. Sebelum dia semakin tidak percaya aku lanjutkan kalimatku, “Kau, ya..memang antifanku. Tapi bagaimana jika idola yang kau benci ini mencintai antifans-nya?” aku tidak tahu jika dia semakin tersentak kaget. “Eh...aku bukan bermaksud aku mengatakan aku mencintaimu lo, yaa...”

Dia pingsan.


Sekian.

@sofiadhe ditulis dalam rangka partisipasi dalam Kuis My Antifan Story oleh Penerbit Haru ^_^

Infinitely Yours: Book Review

Ditulis oleh Dheril di 08:16
Reaksi: 
2 komentar Link ke posting ini
Judul Novel: Infinitely Yours
Penulis: Orizuka
Genre: Teen Romance (Young-Adult)
Penerbit: GagasMedia
Desain Cover: Jeffri Fernando
Halaman: 294 hlm

Sinopsis

Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi bagaimaba caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?
Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri-dan menjauhkan hati-pada akhirnya akan bertemu kembali.
Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya... Kau, aku dan perjalanan ini.


Benarlah, cetakan pertama novel ini adalah tahun 2011 dan saya baru membaca di cetakan pertama di tahun 2012. Saya sadar sudah hampir setahun atau belum genap setahun saya dihantui sosok Jingga yang entah mengapa membuat saya benar-benar ingin bunuh diri seperti yang dirasakan Rayan. Oh, Om Rayan... kasihan banget kamu Om... aku sampe pengen terjun dari kasur ke lantai baca kisah Om sama mbak Jingga yang kelewatan childishnya. Hahaha, mbak Orizuka suka banget ya nyiksa karakternya, om Rayan apa kabarnya mbak? Hehehe. Oke, ini review..bukan curhatan. Kembali ke novel.

I judge a book by its cover, at almost always. Jadi, sudah pasti kakak Jeffri yang mendesain covernya ini bikin saya jatuh hati, lagi-lagi. Dan baru setalah cetakan keduanya terbit, saya baru bisa membacanya, meskipun hanya pinjaman. Hiks, tapi tenang kok Mbak Orizuka, aku akan beli novelnya kok. Hehe..

Saya nggak tahu harus mulai dari mana. Mbak Orizuka nyaris nggak memberi saya kesempatan untuk mencari kesalahan dan titik lemah novel ketigabelasnya ini. Saya memang pembaca yang agak jahat, mencari letak kekurangannya, hehehe... ya setidaknya saya bisa menyeimbangkan rasa cinta itu dengan sedikit rasa menyelidiki.. looh apa hubungannya. Jadi, saya bingung harus berbicara kekurangannya, mari kita bicara tentang point positifnya.

Pertama. Jingga dan Rayan. Makhluk yang mungkin berasal dari planet yang berbeda ini membuat saya junkir balik, ketawa-ketiwi, sampai menangis maraung *haaalah, lupakan*. Bagi yang sudah membaca novel ini, saya nggak harus jelasin lagi, this novel tells you all. Tapi bagi yang belum, beneran deh, siap-siap bantal buat nyumbat mulut karena ketawa overtaking hingga juungkir balik meringis gemas karena perilaku Jingga dan Rayan yang... masyaallah...saya speechless dan mulai membayangkan apakah ada orang semacam mereka ini? Mereka berdua layaknya nyata. Sifat dan sikap mereka sama-sama punya sisi gelap terang yang jelas. Membuat mereka sepertinya benar-benar berseliweran setiap kali saya membuka halaman demi halaman novel bersetting Seoul ini.

Selain itu, analogi dalam cerita ini benar-benar BENAR. Teori tentang dua kutub magnet yang bertolak belakang jika kutub yang sama disatukan, dan sebaliknya dua kutub berbeda akan saling tarik menarik. Rayan dan Mariska itu kutub yang sama, namun Rayan dan Jingga adalah kutub yang berbeda. ‘Tuhan’ (baca: penulisnya) memang berencana membuat pembacanya memahami satu hal penting. Yaitu bahwa kesamaan atau persamaan tidak bisa bersatu dan bertahan lama, berbeda dengan perbedaan itu sendiri. Adanya perbedaan, itulah letak dimana dua hati itu disatukan dalam satu jalinan. Begitulah, jadi...yang sudah punya pasangan, dan sifat kalian berbeda seratus delapan puluh derajat, lebih baik syukurilah hal itu. Karena itu adalah cara Tuhan menyeimbangkan hidupmu agar tidak berjalan seperti permukaan datar. Life’s is never flat, and that’s the way of love too.

Kekurangan novel Infinitely Yours adalah... hm, mungkin terdapat di narasi tentang tempat-tempat lokasi plot ini ya. Deskripsinya seharusnya bisa lebih luwes dan mengena agar tidak terkesan sedang membaca itenary perjalanan. Tapi itu semua tercover dengan baik bersama cerita 294 halaman yang saya baca hanya dalam waktu semalam. Ini pertama kalinya saya memaksakan diri untuk membaca sebuah novel. Mbak Okke harus bertanggung jawab karena membuat saya lupa diri dan begadang dengan tawa-tawa menggelikan, kening berkerut gemas, dan airmata yang menganak sungai. What a kinda marvelous? Rasanya kayak nonton film, dan nggak pengen ada iklan satu pun yang nyelonong memutus cerita. Begitulah... sudah-sudah... saya bingung harus ngomong apa lagi. Dead speechless!

Maaf ya bagi yang baca... kalian jadi membaca setengah curhatan setengah review buku. T_T
 

when all feelings and words mate imajination Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei