Senin, 15 Maret 2010

Senyum Pak Tuki

Ditulis oleh Dheril di 13:36
Reaksi: 
Oleh : Dheril Sofia Nanda
Detik demi detik berlalu serasa seperti berabad-abad. Peluh di kening dan leher seorang lelaki berkaos oblong dan bercelana pendek selutut yang tengah duduk di atas lantai mengucur bak aliran sungai. Raut wajahnya silih berganti antara cemas dan bingung. Gurat kegelisahan itu semakin jelas, terlihat mulutnya yang semu hitam komat-kamit mengucap permohonan sambil menengadahkan tangannya. Tak lama kemudian, pria-wanita berseragam putih–putih menerobos ke dalam sebuah kamar dengan tergesa-gesa. Di pintu kamar itu tertulis “UGD” dengan warna merah menyala. Laki-laki tua paruh baya itu hanya termenung melihat ketergesa-gesaan mereka. Hatinya semakin gusar, dia hengkang dari tempat mencekam itu.

“Pak, tunggu sebentar,” suara seseorang dari balik pintu membuat lelaki lusuh itu menghentikan langkahnya. “Bapak keluarga pasien?” lanjut wanita berseragam putih yang memegang sebuah map.
“Bukan, bukan!!” jawab pak tua dengan segera.
“Lalu, yang membawa pasien itu bapak, kan?”
“Benar. Tapi saya bukan keluarganya, Mbak,”
Suster berjilbab itu terdiam sejenak.
“Hm, kalau begitu bisa bapak tinggalkan alamat bapak,” ucap suster itu sambil menyodorkan sebuah pulpen dan map.
Lelaki tua itu hanya terdiam membatu memandang kedua benda yang kini ada di hadapannya.
“Sa, saya, saya..” lelaki itu terbata-bata.
“Oh, iya. Saya paham,” suster itu menarik kembali map dan pulpen yang dia sodorkan. “Nama bapak siapa?” lanjutnya.
“Tukiman,”
“Tinggal di mana?”
“Di bawah jembatan Semampir, Mbak,”
“O…iya, terima kasih, Pak,” perawat itu berlalu sambil melempar senyum ramah pada Pak Tukiman. Dia pun segera berlalu dan mengambil gerobaknya yang tergeletak di depan rumah sakit. Gerobak itu nyaris tak bisa ditarik karena separuh bagiannya remuk dan ban sebelah kirinya hilang. Sebelum gerobak sampahnya dihantam motor Tiger hitam tadi, gerobak reot itu masih bisa digunakan. Tapi sekarang satu-satunya alat penghasil uang yang dimilikinya hancur. Pak tukiman kembali ke rumahnya dengan wajah tertutup mendung.
Sehari setelah kejadian naas itu, Pak Tukiman yang termenung di depan rumah gedhek yang selama kurang lebih 10 tahun dihuni keluarganya memikirkan bagaimana dia bisa mencari uang sedangkan gerobak yang menjadi titian hidup keluarga remuk. Akhirnya dengan hati yang masih menyimpan keraguan lelaki itu minta izin pada istrinya untuk keluar mencari sesuap pagi dan sesuap petang. Pak Tuki, panggilan akrabnya melangkahkan kaki letihnya dengan harapan menemukan sesuatu untuk bisa menghidupi keluarga kecilnya.
Di tengah perjalanannya mencari segenggam kehidupan dia melihat sesosok anak muda yang rasanya pernah dia lihat sebelumnya. Secara tak sengaja anak muda berseragam putih abu-abu itu juga memandang Pak Tuki. Air mukanya menandakan sesuatu. Sesuatu yang membuat Pak Tuki takut. Dengan segera dia menjauh dari pandangan pemuda itu tapi Pak Tuki tak berkutik ketika tubuh tinggi anak itu menghadangnya.

“Bapak yang kemarin, kan?” ucap anak muda itu sambil menatap lekat lelaki tua yang ada di depannya.
Pak Tuki tak bersuara. Nyalinya menciut dan ketakutan menyerbu hatinya. Buru-buru dia hendak hengkang, namun berhasil dicegah si pemuda itu.
“Ampun! Ampun! Saya minta maaf, jangan laporkan saya ke polisi!!” tiba-tiba Pak Tuki menjerit ketakutan. Anak SMA yang ada di depannya menatap Pak Tuki dengan wajah bertanya-tanya.
“Ampun! Ampun!” Pak Tuki malah hendak berlutut di hadapan anak muda itu, namun buru-buru dicegahnya.
“Yang seharusnya minta maaf itu saya bukan bapak, saya yang nabrak gerobak bapak,”
Pak Tukiman terdiam menerawang wajah anak muda yang kelihatannya ramah.
“Bapak gak perlu minta maaf. Justru saya yang minta maaf dan berterima kasih karena bapak bersedia mengantarkan saya ke rumah sakit,” mata pemuda itu terlihat tulus.
Secercah sinar kelegaan terbit di wajah Pak Tuki. Diperhatikannya pemuda yang berdiri di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pasti dia orang kaya, pikir Pak Tuki. Hal itu terlihat jelas dari penampilan anak muda bertubuh tinggi yang pakaiannya rapi dan sepasang sepatu merek terkenal yang dikenakannya.
“Itu lengan kamu?”
“Ya, karena nabrak gerobak kemarin, cuma memar kok,” ucapnya dengan nada cengesngesan. Lengan kirinya yang dibalut perban terlihat tak begitu baik. “Bapak mau kemana?”
Pak Tuki terbungkam. Ingatlah dia kalau sebenarnya dia sedang mencari pekerjaan. Wajah layunya berubah masam. Pemuda itu diam menunggu jawaban dari Pak Tuki, namun agaknya dia tak sabar dan segera menanyakan satu pertanyaan lagi.
“Bapak tinggal dimana?”
Pak Tuki tersentak, kini dipikirannya bertambah satu masalah lagi. Istrinya.
“Pak! Pak Tuki! Pak!!” pekikan keras terdengar dari seorang anak laki-laki kecil ingusan yang berlari mendekat. “Pak! Itu! Itu!!” anak berrambut merah menyala itu nampaknya ingin memberi tahu sesuatu.
“Apa Tarjo?” tanya Pak Tuki.
“Bu Sarmi! Bu Sarmi!” sandal jepitnya terlepas ketika dia melompat-lompat kebingungan. Dibentuknya setengah lingkaran di atas perutnya lalu meringis kesakitan.
“Kamu ngomong apa?”
“Itu, Bu Sarmi mau, mau,” anak kecil itu kehabisan cara untuk mengungkapkan apa yang dilihatnya tadi.
“Tarjo!”
“Bu Sarmi berdarah!”
Spontan kata-kata terakhir yang terucap bibir Tarjo membuat Pak Tuki terperanjat dan lari secepat kilat menuju bawah jembatan. Si pemuda yang dari tadi hanya mendengar percakapan Pak Tuki dan Tarjo mengikuti arah larinya Pak Tuki sampai ia berhenti di depan sebuah rumah bambu di bawah jembatan. Dia terperangah.
“Paaaakkkk!!!” jeritan kencang terdengar begitu keras dari dalam rumah. Mendengar pekikkan mencekam itu kaki pemuda yang tadinya terpaku bumi berlari cepat menuju rumah Pak Tuki.
“Ada apa, Pak?” napasnya tersengal-sengal. Namun sebelum Pak Tuki menjawab, dia sontak kaget dan sedikit histeris. “Bawa ke rumah sakit, Pak! Cepat!” pemuda itu keluar rumah sambil berlari, menaiki tanjakan yang menuju jalan raya. Satu angkot berhasil dia hentikan.
Tiga orang laki-laki tergopoh-gopoh membopong seorang perempuan. Darah yang bercucuran di betisnya semakin deras mengalir. Alhasil, perempuan bernama Sarmiyem itu berhasil dibaringkan di bagian belakang angkot, Pak Tuki memangku kepalanya. Si sopir angkot dengan sigap menggeber gas secepatnya menuju rumah sakit. Sedangkan anak muda yang tadi ikut membopong duduk mematung, wajahnya pucat pasi, keringat dingin bak menghujani mukanya. Baru kali ini dia melihat darah segar begitu banyak secara langsung. Tak sengaja ia menemukan telapak tangannya yang berlumur darah, wajahnya membiru. Ingin muntah, tapi melihat Bu Sarmi yang menangis kesakitan dipelukan Pak Tuki, dia mengiba. Oh betapa malangnya mereka, gumamnya dalam hati.
Pak Tuki tak henti-hentinya mengucap doa dan salawat demi keselamatan istrinya yang berjuang hidup-mati demi anak kedua mereka. Segerombolan perawat dengan peralatan operasi lengkap memasuki kamar bersalin. Pak Tuki tertunduk lemas.
“Nggak usah bingung, Pak. Semuanya sudah saya urus,” ucap anak muda yang baru saja datang dari ruang administrasi. Ditepuknya pundak Pak Tuki.
Pak Tuki memandang wajahnya lekat dan penuh tanya. “Saya gak bisa hutang lagi, tak mungkin saya bisa membayar hutang sebesar biaya operasi ini,” nada Pak Tuki terdengar begitu letih.
“Ini bukan hutang, ini rasa terima kasih saya atas pertolongan bapak,” pemuda itu balik menatap Pak Tuki.
“Benarkah?” Pak Tuki ragu akan ucapan pemuda itu.
“Benar, sekarang doakan saja Bu Sarmi biar selamat dan bayinya juga sehat,”
“Terima kasih, Nak!” Pak Tuki hendak mencium tangan pemuda itu, namun segera dicegah. Pemuda itu malah memeluknya seakan dia adalah keluarganya.
“Sama-sama, Pak,”
“Bapak belum tahu siapa namamu,”
“Saya Tirta, panggil saja Tata,”
“Nak Tirta, terima kasih banyak,” Pak Tuki tersenyum lega.
Secerah mentari pagi terbit senyum yang menghiasi wajah keduannya saat dokter memberi tahu bahwa Bu Sarmiyem selamat dan bayinya tak kurang satu apapun. Mulai hari itu, hari-hari Tirta berjalan bersama senyum lelaki tua yang menjadi keluarga barunya. Senyum Pak Tuki yang menyiratkan betapa besarnya kesabaran yang ia miliki, betapa tangguhnya ia mengarungi hidupnya yang susah. Dia tetap tersenyum, meski tak sepeserpun rupiah yang ia dapatkan setelah lelah membanting tulang.
Tak terasa sudah seminggu Tirta ikut Pak Tuki tinggal di rumahnya. Hidup di bawah jembatan di rumah beratap seng, berdinding bambu malah memberikan kesan yang sangat mendalam di hatinya. Pak Tuki tak segan menegur Tirta jika dia berbuat sesuatu hal yang tak pantas, seperti saat dia ingin kabur dari rumahnya, Pak Tukilah yang memarahinya. “Kamu boleh tinggal di sini, tapi ingat kamu juga masih punya rumah!” kata Pak Tuki ketika Tirta memutuskan untuk kabur dari rumah. Bukan perkara keadaan rumah Pak Tuki yang teramat sederhana, tapi ini mengenai kehangatan kelurga yang selama ini tak dia dapatkan di rumah mewahnya. Rumah mewah, harta berlimpah, teman-teman yang selalu mendukung dan kedua orang tua yang menyayanginya, bahkan prestasi di dalam sekolah atau luar sekolahnya sangat luar biasa, lengkap bukan? Kecuali satu hal sebuah pelita kasih sayang. Karena kesibukan orang tuannya Tirta nyaris tak pernah bertemu orang tuanya. Kalau pun bertemu mungkin setahun sekali waktu Idul Fitri saja. Ayahnya bekerja di Malaysia sebagai sekretaris duta besar Indonesia untuk Malaysia, sedangkan ibunya bekerja di Singapura sebagai dokter spesialis saraf.
Suatu sore saat Tirta membantu Pak Tuki mengumpulkan sampah di bak sampah tempat biasa Pak Tuki mengais sekeping harapan untuk hidup esok hari. Tirta tanpa rasa jijik memilah-milah sampah yang mulai membusuk. Pak Tuki menyimpan keheranan selama Tirta ikut dengannya. Kenapa anak orang kaya seperti dia mau tinggal di rumahnya yang bahkan lebih buruk dari gudang mereka. Akhirnya saat itu, dia bertanya juga pada Tirta.
“Saya bosan dengan hidup penuh kesempurnaan yang malah sama sekali tak sempurna, memang saya ini anak orang berduit yang bisa membeli apapun yang saya mau, tapi satu hal yang tak bisa diberikan oleh orang tua saya, Pak. Sebuah senyuman yang bisa saya kenang ketika saya tak bertemu mereka, sebuah tangan yang tetap merangkul saya ketika saya jatuh, sebuah pangkuan yang melindungi saya dari mimpi buruk saya, sebuah peringatan ketika saya berbuat salah, mereka tak ada untuk itu semua,” air mata Tirta mengalir begitu deras. Pak Tuki paham benar apa maksud Tirta.
Bersambung....Ke Bagian 2

4 komentar:

Fi on 15 Maret 2010 22:16 mengatakan...

xeritanya inspiratis dan bikin penasaran,

ditungguin endingnya yaaaa

Bahauddin Amyasi on 17 Maret 2010 15:02 mengatakan...

Terusannnya kayak apa ya? penasaran deh! Seru banget lo kalau dijadikan novel...

Salam kenal ya...

near on 23 Maret 2010 21:58 mengatakan...

Ciipz dek ^_^
endingnya gmn tu?

Dheril on 1 April 2010 11:59 mengatakan...

terimakasih sambutannya...

sambungan cerita sudah saya post...

 

when all feelings and words mate imajination Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei