Kamis, 01 April 2010

Senyum Pak Tuki : Part 2

Ditulis oleh Dheril di 11:59
Reaksi: 
“Saya bosan dengan hidup penuh kesempurnaan yang malah sama sekali tak sempurna, memang saya ini anak orang berduit yang bisa membeli apapun yang saya mau, tapi satu hal yang tak bisa diberikan oleh orang tua saya, Pak. Sebuah senyuman yang bisa saya kenang ketika saya tak bertemu mereka, sebuah tangan yang tetap merangkul saya ketika saya jatuh, sebuah pangkuan yang melindungi saya dari mimpi buruk saya, sebuah peringatan ketika saya berbuat salah, mereka tak ada untuk itu semua,” air mata Tirta mengalir begitu deras. Pak Tuki paham benar apa maksud Tirta.
Dia menepuk pundak Tirta sambil berkata, “Itulah cara mereka memberi kasih sayang kepadamu,” Pak Tuki menghapus linangan air matanya.
“Tapi apakah salah jika seorang anak ingin dipeluk sebentar saya oleh ibunya? Terkadang saya ingin dimarahi ayah saya seperti anak-anak lain,” semakin deraslah air mata Tirta.
Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mengkilat berhenti tepat di depan mereka berdua. Seorang pria berjas rapi keluar dan jok belakang dan disusul oleh seorang wanita yang berpakaian rapi pula. Tak salah lagi itu orang tua Tirta. Pria berjas hitam itu menatap dua orang pemulung yang berdiri di samping bak sampah dengan tatapan merendahkan, sedangkan wanita tadi hanya terperangah melihat putranya sedang mengais sampah bersama pemulung.
“Apa yang kamu lakukan, Ta!” suara ayah Tirta menggelegar.
Tirta bungkam dan memalingkan wajahnya. Pria berkumis tebal itu pun merasa tersinggung dengan sikap anaknya.
“Pulang!!”
“Itu bukan rumah!” Tirta membalas bentakan dengan nada lebih tinggi.
“Apa maksudmu? Kamu mau mempermalukan orang tuamu? Cepat pulang!”
“Hah, ayah saja malu memiliki anak seperti aku, apalagi aku!”
“Apa??” sebuah tamparan nyaris mendarat di pipi kiri Tirta, tapi berhasil dihalangi oleh Pak Tuki. Ayah Tirta menangkis tangan Pak Tuki dengan jijik.
“Siapa kamu! Jangan ikut campur!” Pria itu menarik tangan Tirta, tapi Tirta melepaskan tangannya.
“Tidakkah ayah dan ibu mengerti selama ini memang benar kalau kebutuhan materiku tercukupi, bahkan lebih. Tapi apakah ayah dan ibu mengerti apa yang kualami di saat kalian berdua tak ada. Kosong. Semuanya tak berarti ketika sesuatu itu diisi dengan kekosongan. Apakah kalian pernah merindukanku? Bah, menelponku saja rasanya tak pernah, apalagi merindukanku,” semuanya terdiam mendengar kata-kata Tirta.
“Ayah, Ibu, ketahuilah Pak Tuki lebih kaya dibandingkan dengan harta kita, kenapa? Karena dia memiliki keluarga yang sempurna. Walau mungkin di mata anda berdua tak ada apa-apanya, tapi di bawah rumah bambu yang ada di bawah jembatan itu, aku temukan sesuatu yang tak bisa kalian berikan yaitu kasih sayang yang tulus,”
“Tirta,” suara ayah Tirta bergetar. “Bukan maksud ayah untuk memperlakukanmu demikian,” matanya berkaca-kaca.
“Tirta, ibu juga tak bermaksud membuat kamu kesepian,” wanita yang berdiri di samping ayah Tirta itu memeluk Tirta erat.
Dan air mata pun mengalir deras dari ujung kelopak mata Tirta. Tak hanya itu, ayahnya pun menangis sesenggukan. Pak Tuki yang merasa bahwa dia tak pantas berada di tengah-tengah keluarga ini berlalu dari sana sambil membawa gerobak barunya.
“Pak, tunggu,” ayah Tirta menahan kepergian Pak Tuki. Keduanya berhadapan, namun Pak Tuki berpikir kalau dia tak pantas melihat orang macam ayah Tirta. Dia menundukkan kepalanya.
“Maafkan saya, Pak,” Pak Tuki terkejut mengetahui apa yang dilakukan ayah Tirta. Kepala Ayah Tirta mendarat di tangan kotor Pak Tuki, dia berlutut di depannya.
“Tidak, jangan minta maaf pada saya, tapi bersyukurlah anda memiliki putra seperti Tirta, dia berjiwa besar. Kalau dia tak seperti itu, mungkin anda akan dipusingkan dengan ulah nakalnya,”
Sore itu menjadi waktu terakhir Tirta bertemu dengan Pak Tuki. Sejak saat itu dia tak pernah bertemu dengan sosok lelaki tua yang hanya dalam selama seminggu mampu membangkitkan semangat Tirta, mampu menyatukan hatinya dengan sebuah rasa kepedulian dan kesederhanaan. Melalui kaca mobil dia menatap tubuh kurus yang berdiri di samping bak sampah, senyum hangat terlukis dengan tulus dari wajahnya. Senyum Pak Tuki yang tak akan bisa dilupakan dan akan terus dikenang.

3 komentar:

Rikariyanti on 1 April 2010 12:53 mengatakan...

Tirta beruntung ya ketemu pak Tuki...(^_^)' salam kenal dheryl...tukeran link yuk, linknya dah nongkrong di t4ku.. link back ya... thnks

Dheril on 1 April 2010 12:59 mengatakan...

hehehehe...banget!
terimaksii atas sambutannya ya...

near on 1 April 2010 23:23 mengatakan...

Pak Tuki Ilang kemana tu dek...? ^_^

 

when all feelings and words mate imajination Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei