Tapi apakah selamanya cinta yang Dia berikan akan terasa indah saat kita menerimanya? Tentu kita harus paham apa itu cintaNya. Tuhan, memberikan kita kehidupan dimana kita memerankan peran sebagai siapa dan melakoni drama nyata. Bagaimana akhir drama itu tiada yang tahu. Hanya sang Pencipta yang bisa mengetahuinya. Selain itu drama juga tergantung pada para lakon yang bermain di dalamnya. Hidup. Tak ada yang indah sempurna. Selalu ada celah kecil namun bisa memperlihatkan betapa buruknya kita.
Sore itu. Tepat saat hujan gerimis membasahi aspal jalanan yang hitam pekat. Angin pelan yang dinginnya menusuk tulang bagai pedang telah membuat kedua kakiku kaku. Deru mesin motor yang kukendarai mengeram melawan aliran udara yang berlari laju. Kaca helmu mulai memburam karena rintik-rintik gerimis yang mulai deras. Hatiku berdesir. Tak kusadari aku melaju di samping truk tanki gandeng bercat putih-merah. Kencang. Aku tak mungkin mengurangi kecepatan di waktu seperti ini. Kugeber gas, namun di depan terlihat mobil bak terbuka yang hampir saja menjemput nyawaku. Alamak!!! Aku berada di antara truk tanki dan mobil bak terbuka itu dengan kecepatan yang tak biasanya. Aku hanya menggeber motor sampai kecepatan 60-65 km/jam saja, tapi saat itu aku nyaris membuat speedometer itu menunjukkan angka 80 km/jam. Mungkin bagi orang yang biasa ngebut itu tidak terlalu cepat. Tapi bagiku ini gila! Berada di tengah-tengah kendaraan besar bukanlah hal yang lucu seperti badut di atas sepeda satu rodanya. Saat itu pula aku berpikir. Jika esok ada berita kecelakaan motor-truk tanki-mobil bak terbuka…Hah, aku menghela napas. Aku nggak mau berakhir dengan cara seperti ini. Dengan sejuta perasaan yang campur aduk nggak karuan aku berusaha mempertahankan posisiku. Jalanan yang licin membuat roda belakang motor Supra Fit 125 milik ayahku itu selip, aku hampir terpental. Ohh, Tuhan! Mengapa detik terasa bagai menit dan menit terasa berjam-jam lamanya?? Sekitar dua menit aku berjuang mengendalikan setir motor agar tidak oleng ke kanan atau ke kiri karena keduanya berakibat fatal. Ya Allah, aku hanya bisa pasrah saat itu. Jantung yang tadinya hampir terlepas dari aorta kini mulai berdetak tenang, lambat-lambat aku mengurangi gas sampai perlahan aku berada di belakang truk tanki pembawa BBM itu. Hah, untuk sementara aku terlepas dari petaka yang hampir membuatku kehilangan hidup. Sementara?! Ya, tak lama setelah keluar dari sisi kanan truk tanki itu, ban motorku mulai labil, oleng kanan oleng kiri. Oh, tidak lagi! Aku tak mau mencium bokong truk gandeng yang bau itu. Tanpa pikir panjang aku ambil rem depan belakang. Seeeeeth! Hah, aku tak merasakan motor yang terombang-ambing lagi. Alhamdulillah, aku…selamat!!
Hm, itu yang bisa aku ceritakan dari perjalanan pulang acara perpisahan kelas 3, Kamis 27 Mei lalu. Sepulang dari acara, rencananya aku ingin pulang cepat karena saudaraku datang ke rumah. Namun aku tak menyangka kalau sore itu perjalanan pulang hampir menjadi perjalanan yang tak akan membawaku pulang ke rumah lagi. Aku tahu bahwa saat itu Tuhan masih memberi kesempatan untuk menghirup dengan gratis udaraNya. Aku masih diberi kepercayaan untuk melanjutkan sisa umurku di dunia. Tuhan masih mencintaiku. Dengan aku mengalami hal seperti itu Dia memberiku sebuah isyarat kalau kau harus melanjutkan hidupmu walau dalam keadaan seterpuruk apapun. Jalani hidupmu itu, kau tak akan pernah tahu apa yang ada di depan sana sebelum kau mencoba melangkahkan kaki yang terhenti karena beberapa masalah yang menghadang. Tak perlu berputus asa dengan sebuah kegagalan yang membuat dirimu merasa bodoh bahkan merasa tak berguna. Yang harus kau lakukan adalah melanjutkan pekerjaanmu walau kau jatuh dalam kegagalan. Karena di saat sebuah kegagalan datang padamu Tuhan memberimu kesempatan untuk mengoreksi apa kesalahanmu sampai engkau gagal menyelesaikan problema yang kau miliki.
Sebuah catatan yang kutulis tengah malam sehari setelah kejadian yang cukup membuatku takut naik motor sendirian ini akan menjadi sebuah pelajaran bagiku. Untuk tidak menyerah, untuk tidak bosan mencoba sesuatu yang belum aku tahu, untuk belajar sampai aku berhasil menemukan apa yang aku cari. Dan semoga bisa membawa inspirasi dan sedikit pelajaran bagi sahabat blogger sekalian yang membacanya.
Salam sahabat Blogger.
Sebagai jembatan ukhuwah umat tulisan ini semoga bisa menjadi langkah awal untuk saling berbagi, bersama Mbak Anazkia dan Denaihati








4 komentar:
alhamdulillah.. mbak selamat.. bsk lg jgn lupa doa mbak
hikmah yang diambil emmang harus lebih hati2. semoga menang ya?
@ gayuh ; alhamdullilah....aku bersyukur banget...hm, insyaallah..
@ nietha: trima ksih..:)
cerita yang indah, Cinta.. hmmm menarik sekaligus misterius.. Tuhan-- cinta-- bahkan kasih di sebut secara bersamaan, ada hal yang timbul, kemudian hilang... Cinta, artinya begitu samar dengan harapan.
Tapi yang ku ketahui adalah, setiap hembusan nafas dan tarikan nafas dalam hidup kita adalah anugrah-Nya. Cintanya di sampaikan lewat itu, setiap saat dan selalu.. Pernahkah kita merenungkan hal itu, walau hanya sekepal detik..
Artikelnya sanagt menginspirasi sobat, salam kenal yah.. maksih!!
Poskan Komentar