Jumat, 06 Agustus 2010

Lomba Menulis Cerpen: MOZAIK MATA

Ditulis oleh Dheril di 08:56
Reaksi: 
MOZAIK MATA

Gadis itu bernama Asha. Asha adalah anak angkat di keluargaku, dia diambil dari sebuah panti asuhan. Saat ibu dan ayah mengadopsinya aku berusai tiga tahun dan Asha masih berumur sepuluh bulan. Aku tak tahu mengapa orang tuaku mengadopsi anak, tapi ternyata Asha memberikan kejutan disetiap detik bersama kami. Aku adalah anak laki-laki tunggal dari keluarga Wardhana, ayahku. Dan Asha hanyalah anak pungut yang membuatku tersisih di keluarga ini. Aku heran mengapa mereka lebih memperhatikan gadis yatim piatu itu ketimbang aku anaknya sendiri. Masa kecil sering kali mendapat omelan ketika kurebut makanan dari tangan Asha. Bahkan ayah memukulku tepat di pelipis saat aku mendorong Asha sampai tangannya harus digips selama tiga bulan karena terbentur pagar besi. Luka di pelipis itu takkan kulupakan. Saat itu aku bersumpah tak akan pernah berbicara padanya.

“Kak Ricky, ini sarapannya,” sebuah nampan penuh dengan makanan berada di atas pahaku. Seorang gadis duduk di sampingku lalu mulai menyendok bubur dan mengangkatnya ke arah mulutku. Aku tak bergerak. “Kak, aaaa” Asha menyuruhku membuka mulut tapi aku takkan pernah melakukannya.
“Pergi kau! Kenapa kau masih mau mengurusku setelah apa yang kulakukan padamu!”
Asha membisu, “Kak Ricky harus makan,” dia berusaha berkilah.
“Kenapa kau rebut kasih sayang orang tuaku? Kenapa kau ambil semua kebahagiaanku? Kenapa!” aku tak bisa mengendalikan emosi yang selama delapan belas tahun bergemuruh bak petir yang siap menyambar dalam hatiku ini. “Apa karena aku buta! Apa karena aku seorang yang kalian anggap tak memiliki masa depan? Hah? Jawab Asha!” gadis itu tertunduk tak berdaya. Isak tangisnya memecah keheningan di antara kami.
“Jika itu yang kakak khawatirkan, jika itu yang kakak rasakan selama ini… Kamu salah, Kak…”
“Apa maksudmu! Asha, sudah cukup aku menderita tanpa belaian ibu, tanpa semangat dari ayah. Tanpa cahaya selama hidupku. Jangan kau ambil hidupku ini, tidakkah kau puas? Kau tumbuh menjadi gadis normal yang sempurna, memiliki semuanya. Tapi aku…” kuterhenti sampai di situ karena tiba-tiba ada sepasang tangan yang merengkuhku. Hangat.

“Maafkan aku, Kak. Sungguh, aku tak berniat berada di tengah-tengah keluarga ini. Tapi ayah-ibulah yang menginginkannya. Apa kakak kira selama ini yang mengurus kakak itu hanya perawat? Apa setiap malam yang membacakan dongeng itu bukan ibu? Siapa yang selalu mengantar kakak check-up ke dokter? Kak, kehadiranku di sini bukan keinginanku. Kehadiranku di sini hanya untuk menjadi mata dan kakimu, Kak…” tangis Asha menjadi setelah kalimat terakhir yang diucapkannya. Aku sendiri tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku membisu dalam duniaku. Seperti ada ratusan jarum yang menusuk isi kepalaku. Pagi itu menjadi pagi terakhir aku bisa merasakan kebencian pada Asha.

Dua puluh satu tahun dalam kegelapan memang telah memberiku rasa sakit yang teramat dalam. Kegelapan itu sudah membawaku pada duniaku yang tercipta dari rasa iri dan benci yang telah membuatku benar-benar buta pada kasih sayang keluarga ini. Aku tak bisa melihat bagaimana ibu membelaiku tiap kali dia membacakan dongeng sebelum tidur. Aku tak bisa menyaksikan saat-saat ayah menuntunku masuk ke ruang klinik untuk periksa mata. Selama ini aku tak tahu siapa yang melakukan semua itu, aku tak tahu kalau suara yang mengantarku dalam mimpi adalah suara ibuku. Tangan kuat yang memegang erat lenganku itu milik ayah, aku tak tahu. Yang aku tahu aku terperangankap dalam dunia gelap ini.
Asha menuntunku keluar kamar. Apa yang ingin dia lakukan sekarang? Tiba-tiba rasa dingin menyentuh tanganku. Kursi besi yang ada di bawah pohon beringin ini terasa sangat beku.

“Nah, kakak ini tempat kakak dulu sering bermain…”
“Bermain? Maksudmu bermain di tengah kesendirian?” potongku.
“Kakak ingat? Aku menangis sendirian di sini setelah kakak memukulku dengan mobil-mobilan lalu kakak berjalan tertatih-tatih menuju rumah?” aku terdiam tak bisa menjawab ucapannya. “Kak, Asha pengen jadi mata kakak…”
“Apa!” aku tak mengerti dengan ucapannya kali ini.
“Lihat, ini adalah Berry, boneka beruang yang selalu menemaniku,” Dia meraih tanganku lalu diletakkannya di atas boneka itu. “Halus, ya bulunya?” aku bisa merasakannya. “Warnanya coklat tua..hm, coba kakak bayangkan rasa coklat panas yang lumer di mulut, seperti itulah rasanya kalau melihat warnanya,” untuk pertama kalinya aku tersenyum di depan Asha. “Wah, ada matahari terbit!” serunya tiba-tiba.
“Hey, aku memang buta. Tapi aku tak bisa kau bodohi, ini sudah larut malam, bodoh! Cepat masuk ke rumah!”
“Ada kok! Tuh di wajah kakak! Indah banget!” jarinya mendarat di pipiku. Aku tersentak. Tapi, sesuatu tiba-tiba meluncur dari jantungku. Debar.
“Ah kamu! Ayo cepat masuk! Dingin tau!”
“Bentar, Kak,” Asha mendengus.
“Ya sudah, aku masuk sendiri!”
“Eh, jangan! Tunggu dulu, masih ada satu hal yang ingin kuperlihatkan pada kakak,” Asha menarik tanganku. “Tidakkah kakak ingin melihat seperti apa aku ini?” tanganku mendarat di wajah Asha. Aku tak berani menggerakkan tanganku. Kurasakan kelembutan melebihi boneka tadi, wajahnya teramat halus. “Ini mataku…bulat seperti punya kakak. Ini hidung aku..mancung kan! Dan ini…” Asha tak melanjutkan perkataannya. Jari telunjukku berhenti di bibir Asha. Kami terdiam cukup lama dan aku masih meletakkan jariku di atas bibirnya. “Kak?” Asha membangunkan aku dari lamunanku. Aku tarik tanganku cepat-cepat dan menghindar dari Asha. Tubuhku gemetar. Sekujur tubuhku semakin bergetar setelah sebuah kecupan mendarat di pelipisku, tepat pada luka delapan belas tahun lalu. “Itu hukuman untuk kakak karena kakak udah memukulku dulu!” ucap Asha sambil menuntunku untuk masuk kembali ke rumah. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku tak pernah tahu kalau ada hukuman semanis ini.

Dulu ayah dan ibu sering membicarakan tentang kecantikan Asha, tapi aku tidak tahu secantik apa dia. Namun, aku bisa melihat cahaya dari kecantikan hatinya. Gadis yang selama hidupnya tinggal bersamaku di Jogya ini, kini telah menjadi bagian dari mata butaku. Melalui dirinya aku mulai mengenali lingkungkan sekitarku. Mulai dari warna putih, Asha selalu berkata bahwa warna putih itu seperti rasa damai yang kau rasakan dikala kau jenuh. Dia sering menemaniku membaca buku -huruf-huruf Braille- dan dengan begitu sabar dia menuntunku. “Kakak memiliki mata yang teramat indah. Bahkan aku iri dengan mata kakak. Wajah kakak seperti malaikat kecil yang memancarkan cahaya sucinya,” aku anggap itu rayuan gombalnya tapi dia menolak dibilang kalau dia menggoda. “Aku bersumpah!” katanya jika aku mulai meragukan ucapannya.

Aku berdiri di depan altar. Aku tak bisa melihat betapa indahnya makhluk tuhan yang tengah berjalan ke arahku. Lavender, aromanya menyeruak di penjuru ruangan. Suara langkah kakinya semakin dekat dengan tempat kuberdiri. Tangannya menyambut tanganku. Gadis itu bernama Marsha, yang selama ini kukenal dengan nama Asha. Dia anak adopsi di keluargaku. Dia adalah mimpi burukku selama ini, tapi dia telah membuka mataku. Aku bukan seperti orang buta di sampingnya. Dia adalah mataku juga kakiku. Dalam dekapannya aku bisa melihat dunia ini. Dia seperti mozaik yang melengkapi kelemahanku. Yang membuat kepingan mozaik hampa milikku menjadi amat berarti. Asha, gadis pemilik suara lembut –itu hal yang paling kuketahui dari Asha- yang selalu sabar menghadapi amarahku selama ini. Hm, tak pernah terbayangkan dalam otakku kalau kau kini telah menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Selamanya.
“Kecantikan yang takkan bisa kunikmati dengan mata
Namun akan selalu bersemayam dan lekat dalam hatiku. Marsha.
SELESAI


Terimakasih kepada blog Sang Cerpenis dan VIXXIO yang telah mengadakan lomba ini
Novel yang aku inginkan jika aku menang, Magnificent karya aL Dhimas
Kupersembahkan untuk Lomba Menulis Cerpen yang diselenggarakan oleh blog Sang Cerpenis dan VIXXIO.

6 komentar:

Sang Cerpenis bercerita on 6 Agustus 2010 10:49 mengatakan...

ok deh, dicatat dulu. tks ya..

Vixxio on 6 Agustus 2010 11:12 mengatakan...

Makasih ya Dheril udah ikutan lombanya. Mampir bentar aja yah..

chikarei on 9 Agustus 2010 10:25 mengatakan...

salam kenal
ikutan baca^^

Ayi on 11 Agustus 2010 14:26 mengatakan...

Ikutan baca...
rasanya gurih ^_

salam kenal, tukeran link yuukkkk...

Dheril on 11 Agustus 2010 15:45 mengatakan...

@ Sang Cerpenis : terimakasih...

@ vixxio: iya samma-samma...^_^

@ chikarei ; salamkenal...silakan...

@ ayi : silakan...wah tahu goreng tuh...

hayoo..

Phil 'o' Sophy on 11 Agustus 2010 16:37 mengatakan...

Ceritanya menarik :)

 

when all feelings and words mate imajination Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei