Gesekan pensil di tanganmu dan suara desah angin di luar sana menyatu dalam ruang bisu di antara kita. Dua manik mata hitam itu masih begitu serius meneliti tiap inci goresan pensil yang kau buat. Beginilah jika kau teramat serius dengan desain yang kau buat, selepas sketsa kasar yang kau selesaikan kau akan segera mempersiapkan paper work untuk lekas membuat desain utuhnya.
Selalu membuatku terhenyak dengan senyummu yang tiba-tiba terukir meski manik mata indah milikmu terus mematut pada meja gambar. Ada apa? Ada yang lucu?
“Kau membuatku gugup, kalau terus memandangiku seperti itu aku bisa salah mengukur...” derai tawa ringan mengikuti setelahnya.
Akhirnya kualihkan perhatianku sendiri pada notebook putih yang sedari tadi aku acuhkan. Draft yang terbengkalai karena terlalu menikmati pemandangan indah dirimu.
“Judul buku baru?”
“Ah? Ya...” sudah sebaik mungkin aku memusatkan perhatianku namun suaramu saja sudah berhasil membuyarkannya.
“Penulis itu gak pernah kehabisan judul ya... selalu saja ada ide...” aku tahu saat ini kau melirik sekilas lalu kembali berkutat dengan proyekmu.
“Ya... Begitulah, seperti seorang arsitek yang tak pernah habis mengeluarkan desain terbarunya...” kupulas senyum paling manis untukmu.
Hanya jika dia bersedia membalas apa yang telah aku utarakan padanya...kamu bukanlah judul terakhir dari buku-buku yang akan kutulis. Setiap judul adalah kamu.
Rabu, 25 Januari 2012
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)









0 komentar:
Poskan Komentar