Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah Denganku

Ditulis oleh Dheril di 15:40
Reaksi: 
Kau sibuk menyapukan bedak pada seorang perempuan muda yang hari ini akan melangsungkan janji pernikahannya. Kau sibuk mendetailkan riasan di wajahnya yang menurutku sudah sangat sempurna itu, namun kau masih saja mencari dimana letak kesalahamu. Sesekali kau benahi gaun putih gading wanita itu dengan serius, menatapnya dari pantulan cermin dan bertanya kepadanya apakah dia sudah merasa pas dan puas dengan hasil kerjamu. Perempuan itu bahkan sudah sumringah melihat gadis bak putri raja yang terpantul dari cermin, tidak percaya jika dalam empat jam duduk berhadapan denganmu dia bisa berubah seolah disulap dengan sihir. Kedua tanganmu memang diciptakan untuk menciptakan seni, itulah yang selalu kau ucapkan padaku.

“Mike, bagaimana menurutmu?”

Dari ambang pintu kuacungkan dua jempol terangkat dan kau tersenyum puas. Namun sebelum kau beranjak dari meja rias itu, aku ingin menghentikanmu segera sebelum kau akan sibuk mengatur para pengiring pengantin nantinya.

“O...o, mau kemana lagi kau? Aku menungggumu lebih dari enam jam..hampir setengah hari,” kududukkan kau di pangkuanku. Kau mengelak namun kekuatanmu takkan mampu melawan diriku.

“Mike! Ini tempat umum,” satu cubitan mendarat di lengan kiriku. Rasa sakit yang kurindukan saat jari kecilmu mencapit kulitku seperti seorang anak kecil. “Jadi kau lebih suka duduk di kursi keras itu dan mendandani pengantin daripada di atas pangkuanku, hah?”

It’s not the time, I have a lot of stuff to do, Mike...” rengekmu manja.

Annabelle, would you like to sit down on her chair and let somebody does something on your beautiful face to change you to be a pretty princess? Would you like to take one of that wedding dress and stand by me in front of our everlasting promise?

“Mike...don’t joke...” kau sudah lima tahun menjadi penata rias pengantin, namun mengapa kau masih menganggap ini lelucon?

I do, I do... Menikahkan denganku,” aku tak mengenali ekspresimu kali ini. Kau pucat, lalu memerah dan manik mata kehijauan itu nampak tidak fokus. “Aku serius, menikahlah denganku,”

“Sekarang?!” jawabmu gugup. “Bagaimana ini...aku belum siap-siap...kita belum pesan gaun...Mike..?”

Aku terkekeh mendapatimu begitu terkejut hingga bingung sendiri. “Ya, sekarang...”

“Apa?”

“Menikahlah denganku, sekarang,” kurasa senyumku ini akan permanen selamanya jika kau bilang, “Ya!”

Maka senyum itu aku anggap jawaban 'Ya!'

0 komentar:

 

when all feelings and words mate imajination Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei