Derak engsel pintu utama gereja membuatku segera membalikkan badan. Cahaya matahari dari luar menyilaukan pandanganku hingga aku tak bisa menatap langsung pada sosok anggun dengan gaun putih gading yang kuingat sebagai hadiah ulang tahunmu hari ini. Gaun yang sengaja kurancang sendiri untuk pernikahan kita. Rasa gugup itu sirna begitu saja saat semakin jelas aku melihat lengkungan bibir merah milikmu yang seakan abadi itu. Bahkan hingga berdiri di depan Tuhan aku masih berdecak kagum begitu melihat bidadari yang kini sudah bersanding di depan pendeta. Janji kami akan segera diikrarkan.
***
Aku minta maaf jika aku muncul sedikit terlambat, aku minta maaf karena sudah membuatmu gelisah berdiri sendirian selama menungguku, tapi bagaimana... penata riasku ternyata juga dilamar hari ini. Semoga kau tidak keberatan jika tadi kupinjamkan gaun ini padanya. Namun begitu melihat senyum itu, senyum pangeran yang sama sekali tidak pernah kuimpikan akan menikah dengannya.
"Ikrar kami sah di mata Tuhan sekarang"








0 komentar:
Poskan Komentar