
Liburan semester ke-tiga ini yang sangat panjang dan mulai membosankan bila tidak dimanfaatkan dengan baik segera berakhir. Tanggal 1 Maret aku sudah masuk kuliah lagi, bertemu dengan orang-orang itu lagi, pergi ke tempat itu-itu lagi, mengulang semuanya seperti kuliah lagi. Yah, back to collage. Tapi ada yang membuatku merasa senang setelah menghabiskan dua bulan liburan. I didn’t go to work or doing something to make money but I teach my private student like usual.
Tapi dua bulan ini aku berhasil menyelesaikan satu draft novel bersetting Korea yang idenya muncul di akhir tahun. Bulan Januari dan Februari seperti menjadi puncak semua inspirasiku mengalir hingga aku tidak bisa berhenti memikirkan para tokoh yang hidup dalam imajinasiku. Setiap hari mereka menghantuiku hingga aku tak sempat meluangkan waktu untuk hunting foto. Padahal rencananya aku ingin pergi ke Surabaya untuk mencari referensi novel. tapi akhirnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop untuk menulis. Bahkan sebelum aku bisa memejamkan mata pun aku tidak bisa tenang bila mereka belum keluar dari imajinasiku, ide-ide menghujaniku seperti ratusan rintik air dari langit. Membuatku kewalahan menampungnya, tapi aku tetap berusaha untuk mempertahankan ide yang berseliweran itu.
Dua bulan aku menyelesaikannya, berbanding terbalik dengan naskah sebelumnya yang butuh kurang lebih enam bulan untuk selesai karena tentu saja terbentur kuliah dan kegiatan lain. Liburan ini aku konsen menulis dan membaca. Aku merasa sangat senang karena kapan lagi aku bisa menghabiskan seluruh satu hari penuh untuk memuaskan imajinasi menulisku dan membaca.
Aku tak banyak keluar rumah. Hanya ke toko buku sesekali, itupun hanya untuk melihat-lihat. Liburan ini mungkin agak ‘lame’, tapi aku sangat puas dan bersyukur karena bisa menyelesaikan satu draft judul.
Nah, selesai dengan draft itu aku malah mendapatkan berbagai macam ide cerita yang menarik. Hingga aku bingung yang mana yang harus aku tulis terlebih dahulu. Hanya untuk sekedar menuliskan ide ceritanya saja membuatku bingung karena begitu banyak inspirasi yang menghampiriku. Harus kudahulukan yang mana? Aku tidak tahu karena begitu banyak hingga aku tidak yakin jumlahnya. Namun aku bersyukur karena imajinasiku adalah sahabat terbaik yang kumiliki. Setiap kali aku memikirkan dunia yang ada di sana, aku bertemu dengan sosok karakter yang beragam dan membuatku semakin yakin dan bersemangat untuk menuliskan kisah mereka. Aku bangga telah hidup dengan imajinasiku. Entah meski banyak orang yang merendahkanku karena hanya bisa berkhayal dan menulis, aku tidak peduli. Banyak yang mengatakan bahwa penulis hanya bisa berkhayal yang muluk-muluk. Tidak, itu salah...itu bahkan bukan khayalan belaka, tapi itu inspirasi dari kisah yang hidup dalam imajinasi penulis. Orang yang sulit merasa dan sulit peka terhadap hal-hal sepele yang malah sangat penting-seperti orang yang tidak bisa berimajinasi- akan sangat sulit untuk memahami jalan pikiran sepertiku. Aku bahkan tidak merasa kehidupan yang terjadi dalam imajinasiku hanya ilusi, aku menganggapnya nyata dan ada karena mereka hidup di duniaku, imajinasiku.
Satu lagi, aku berharap dan berdo’a untuk naskah-naskahku yang belum terbit dan masih dalam proses seleksi. Masih satu sih, tapi yang lain akan menyusul. Ya Allah, mudahkanlah jalanku untuk bisa membuat ayah dan ibuku bangga dan tahu bahwa aku bisa menjadi penulis. Ya, ini serupa dengan mimpi yang akan jadi nyata. Mengubah mimpi menjadi nyata. Itu prosesnya. Wish me luck!








0 komentar:
Poskan Komentar