
Entah mengapa aku harus mengendap-endap seperti pencuri di dalam rumahku sendiri. Meski aku yakin seratus persen jika karpet Turki yang terhampar sejauh lorong pintu ke ruang tamu ini tidak akan meninggalkan bunyi apapun, aku masih saja melangkah seolah lantai kayu di bawah karpet akan berdecit keras. Lima menit lagi adalah waktunya, aku masih merunduk di bawah kusen jendela dengan tirai tipis menutupi kepala hingga setengah badanku. Sudah dua hari ini ada hal-hal yang aneh terjadi, di saat sore menjelang pintu utama diketuk keras-keras namun setelah kubuka, aku hanya menemukan setoples penuh cookies cokelat yang masih hangat.
Toples pertama di hari Rabu
Sepulang dari perpustakaan untuk menyelesaikan proposal thesis aku merebahkan tubuh di dekat perapian yang menyala temaram. Di luar salju sedang menimbunkan diri di sela-sela tanaman perdu di depan rumah saat ketukan keras itu membangunkan aku. Tak ada siapa-siapa yang berdiri di balik pintu itu kecuali setoples penuh cookies yang baru matang.
Agak menakutkan juga memakan cookies yang berasal dari entah berantah itu, tapi setelah aku mencoba sekeping ternyata tidak ada tanda-tanda bahwa kue itu beracun. Aku masih baik-baik saja dan tak kusadari jika lima belas menit berikutnya toples itu sudah kosong. “Siapa yang meninggalkan setoples cookies enak ini, ya?”. Kejadian pertama itu aku anggap kebetulan saja. Tapi setelah itu aku mulai menaruh curiga pada orang yang sengaja meninggalkan cookies di depan rumahku.
Dan hari ini aku berencana untuk memergoki siapa yang menerorku dengan cookies seenak itu. Aku tidak akan keberatan jika dia bersedia menampakkan dirinya karena cookies yang dia tinggalkan memang sangatlah lezat. Tapi jika dia terus mengendap-endap di depan rumah dan terus melakukan hal itu, aku akan menelpon polisi karena dia sudah sangat meresahkan.
Aku masih memegang erat tongkat bisbol Chris yang tertinggal musim panas tahun lalu, aku bukan pemukul yang handal, tapi aku yakin tongkat ini bisa memberinya satu pelajaran berharga, ‘Berhenti meneror dengan kudapan seenak itu’. Sekali lagi aku melirik ke luar jendela dari balik korden tipis lalu cepat-cepat kembali bersembunyi, takut jika nanti dia akan tahu di hari ke tiga dia akan ditangkap basah. Setelah aku pikir-pikir, hari ini adalah hari dia seharusnya sudah menggedor pintu rumah ini dan meninggalkan setoples cookies lagi. Hari pertama adalah Rabu sekitar jam lima sore. Dan aku tidak akan bisa melupakan hari kedua itu.
Rabu di minggu ke-2 bulan Februari, jam lima sore tepat.
TV kunyalakan setelah menaruh tas sepulang dari kampus. Aku nyalakan penghangat ruangan untuk menggantikan perapian yang kehabisan kayu bakar. Aku berjalan ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi tapi seseorang mengetuk pintu dengan begitu keras hingga membuatkan berlari menuju ruang depan. Aku berdiri di balik pintu menunggu orang di luar sana mengetuk lagi. Tepat setelah ketukan ketiga berakhir lekas kubuka pintu itu, tapi apa yang aku dapatkan masih setoples cookies hangat itu. Aku mulai berpikir jangan-jangan toples itu punya tangan dan dia mengetuk pintu rumahku, tapi itu terdengar sangat konyol. Kupandangi saja toples kaca itu, kali keduanya toples itu ternyata lebih besar dari yang pertama. Aku mendadak jadi ketakutan dan meninggalkannya di luar, tapi akhirnya aku membawanya masuk karena mengingat betapa legit dan lezatnya tiap keping cookies itu. Aku melupakan semua keanehannya.
Sudah jam lima lewat tapi entah mengapa aku sama sekali tidak mendengar langkah seseorang di luar sana. Aku mencoba untuk bersabar tapi karena lelah bersikap seperti maling bahkan di rumah sendiri kuputuskan untuk mengakhiri kekonyolan ini. Aku membatalkan konsultasi thesisku dengan Prof. James hanya karena ingin memergoki si pengantar toples misterius itu, tapi aku mulai kesal. Kubuka pintu rumah untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi, bukan setoples cookies yang kutemukan...secarik kertas melambai-lambai dari dasar pot bunga mawarku, dan ini mungkin jawaban atas segala hal aneh yang terjadi.
Di bawah mawar aku menunggu seorang gadis bermata azure
Di dalam atap istana kaca aku menaruh pesan kepadanyaDua istana kaca di depan istana gadis bermata azureDi bawah cahaya palsu aku berdiri, membawa istana kaca ketiga di antara embun yang membeku di sisi Tilden
Sajak di kertas itu seperti puisi, namun setelah ku baca berulang kali aku yakin ini adalah petunjuk. “Jadi ini semacam permainan menemukan harta karun?” ku edarkan pandangan menyisir halaman rumah yang memutih. Tidak ada jejak kali sama sekali, berarti kertas ini sudah ditaruh sejak salju belum turun. “Dan... Astaga, dia pasti sudah hampir mati menggigil!” aku meraih mantel tebalku dan segera mengunci rumah. Aku tahu apa itu maksudnya di bawah mawar aku menunggu seorang gadis bermata azure. Gadis yang dimaksud adalah aku, ya aku memiliki warna azure di kedua manik mataku. Istana kaca... pesan? Itu pasti toples dan cookies itu. Cahaya palsu... apa itu? Tapi Tilden, aku tahu pasti itu.
Derap langkahku akhirnya sampai di area Samuel Tilden. Salju sudah menggunung di tangga naik menuju patung negarawan New York itu, Tilden...di sini tempatnya. Siluet hitam yang berdiri di bibir tangga itu hanya terpapar sinar lampu jalanan dan aku tidak bisa melihat lebih jelas. Tapi kuyakin jika dia seorang laki-laki. A man with three stopleses full of cookies? It sounds too sweet to a big guy, right? Tapi kuputuskan untuk mendekat dan menaiki tangga menuju Tilden.
“Berhenti di tangga keempat,” suaranya menghentikan langkahku. Aku berhenti begitu saja sementara jarak dia dan aku hanya tujuh anak tangga. “Apa kau sudah menemukan pesan yang aku maksud?” dia masih berdiri membelakangiku.
“Apa tujuanmu melakukan semua ini?!” aku sudah tidak tahan lagi, jika dia macam-macam ponsel di tanganku sudah siap memanggil 911.
“Chloe, jadi belum menemukan pesan di balik atap istana kaca?”
“Kau tahu siapa aku? Apa maksudmu?!” aku mulai takut hampir saja aku mendial nomor polisi. Aku berpikir sejenak. Memahami apa maksudnya atap. Jika itu atap istana kaca dan istana kaca itu adalah toples, yang dimaksud atap itu adalah...tutup toples itu? “Aku...” baru saja aku mengalihkan pandangan dan bermaksud mengajukan pertanyaan, siluet itu menghilang tak berjejak. Hanya setoples cookies hangat lagi yang berdiri di tempat pria itu lagi. Dengan segala keresahan dan rasa takut, aku berjalan pulang sambil memeluk toples cookies itu. Hawa hangat yang keluar membuatku merasa nyaman memeluknya erat-erat.
Kupikir aku sudah mengunci pintuku tadi, tapi nyatanya sekarang daun pintu rumahku terbuka lebar. Aku beringsut masuk dengan wajah panik yang membuatku ketakutan.
Chris duduk di meja bar di samping dapur, di depan toples kosong dengan senyum hangat yang membuatku lebih tenang.“You act like you just saw a ghost,”
“I did. I really mean I did,” kutaruh toples itu dengan kesal dan duduk di kursi berseberangan dengan Chris. Hening berlalu cukup lama sampai suara Chris menyenandungkan kalimat yang membuatku tersentak.
Di dalam atap istana kaca aku menaruh pesan kepadanya
Dua istana kaca di depan istana gadis bermata azure
“Kau...”
“Sudah kuduga kalau kau terlalu keasyikan memakan cookies itu dan lupa untuk memeriksa lebih teliti,”
Aku terpana dalam tatapan mata abu-abunya yang penuh misteri. Apa-apaan ini?
“Seharusnya jika kau mendapatkan toples misterius berisi cookies, kau periksa baik-baik...” dia membuka toples kosong dan menaruh penutupnya yang pertama dalam posisi terbuka.
Will... penutup toples kedua... YOU. Dia merebut toples terakhir dari tanganku, MARRY ME?
Itu pesan dari ketiga toples cookies itu?
Chris mengambil sekeping cookies dan memasukkannya ke dalam mulutku, “Will you?” matanya berbinar. Dan aku terdiam tanpa kata yang bisa kuucapkan untuk menggambarkan betapa terkejutnya aku.
Damn!, aku mengumpat dalam hati. Tapi tunggu, ada benda asing dalam cookies ini. Dan aku sadari jika lingkaran mungil perak itu adalah cincin permata azure. Kupandang mata abu-abu itu dengan segala tanya, “Do you make your own cookies?” bukan jawaban yang dia tunggu.
Chris tampak terkesiap, “I do...” dia masih menunggu aku menjawab.
“If this world is the bitter chocolate, would you like to be the sugar to complete me as a piece of cookies?”
Senyum di wajahnya lebih lebar saat kami berpelukan. “I’ve been waiting for ages to hear you saying this,”








2 komentar:
Halo dheril, makasih sudah berkunjung ke blogku. :)
Terima kasih juga sudah ikutan giveawaynya. aku simpan ya link-nya untuk dinilai nanti :)
Salam kenal :D
my pleasure sista...
terimakasih juga sudah mampir.. ^_^
hehe, semoga menang... amiin ^_^V
Poskan Komentar